November 22, 2018

Hujan Pasti Berhenti

Selamat malam.

Selamat pagi, juga siang, apabila kau sedang berkelana, tak berada di tempatmu biasa berada.  

Bagaimana kabarmu? Hari ini, kemarin, dan beberapa hari yang lalu?

Belakangan ini, di bawah langit yang murung, disela sentuhan lembut angin musim penghujan, semesta kerap mempertemukanku dengan seorang puan bernama Rindu. Pada perjalanan pertama menembus jarak puluhan kilometer menuju tempat kerja, perjalanan kedua di penghujung hari, atau pada perjalanan-perjalanan lainnya.

Dia terlihat dan bertingkah sepertimu. Kursi bagian belakang bus selalu jadi pilihannya. Untuk sekadar mengamati objek-objek yang menarik perhatian atau untuk menenggelamkan diri bersama pertanyaan-pertanyaan di dalam kepala. Begitu jawabnya, ketika kuberanikan diri untuk bertanya. Garis-garis yang menghiasi kedua sudut matanya ketika tersenyum, juga, persis seperti milikmu. 

Pada beberapa pertemuan singkat tersebut, kami tak banyak bertukar kata. Malam ini pun, tak ada bedanya. Kedua mata miliknya melekat erat pada lapisan kaca yang basah. Mereka kehilangan cahaya, membuatku bertanya-tanya. Kenangan seperti apa yang dititipkan oleh langit melalui hujan untuk Rindu? 

Rindu—sosok itu mengingatkanku pada dirimu.

Padamu, aku pernah bertanya. Mengenai hujan, kenangan, dan kesendirian. Kau biarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut menguap ke udara, bersatu dengan awan pembawa hujan yang bergerak menjauh. Hujan hanyalah hujan, katamu saat itu. Setelah banyaknya mimpi yang kau ikhlaskan pergi, apa masih sama jawabmu?

Tak perlu jawaban, aku sudah tahu.

Kalau hujan tidak pernah jadi sekadar hujan bagimu.  




Untukmu diriku, 
bagaimana keadaanmu?
Sudahkah kau berdamai dengan masa lalu? 
Seperti yang kau pinta dalam doa, kembali seperti sediakala.

Untukmu diriku,
sudahkah kau tinggalkan ketakutan yang menguasai kepalamu?
Seperti yang kau inginkan, agar kau bebas menggapai angan.

Untukmu diriku,
menangislah.
Tak apa.
Semesta akan jaga rahasiamu.

Untukmu diriku, juga Rindu, 
bertahanlah. 
Hujan akan berhenti.
Sebentar lagi.
Dan itu pasti.


Note:
Akhir-akhir ini, saya banyak membaca cerita-cerita serupa. Dulu, saya belum mengerti. Ternyata, butuh dua puluh tiga tahun bagi saya untuk memahami alasan orang-orang yang kerap memandangi langit dengan saksama. Untukmu Rindu, juga lainnya yang sedang berjuang, bertahanlah. Hujan segera berhenti. Pasti.

August 05, 2014

Because It’s You, Because It’s Your Love


It’s you, a melody that plays along with my heartbeat.
You greeted me unexpectedly like a beautiful fairy tale. Even with each passing day, I still feel the same way. Lived as an angel in my imagination, you brought beautiful things into my world. You held my hands and took me away to a dream that I’ve always dreamed before. A very beautiful dream, when there was only happiness around us.
Like a star, I only looked at you in my darkness. It seemed close, but I couldn’t touch it. Seemed beautiful, but I know I couldn’t have it. And you were just like thatforever impossible for me to reach. But then, you were there, tried to erase all of my doubt, asking me to face the world with youwith your undeniable beautiful smile. Thank you. That smile of yours gave me a lot of strength.

Because it’s you, you stayed even when I told you not to.
My heart still beats the same way. It seems everything I do somehow reminds me of you. All things about youyour sweet smile, sparkling eyes, deep voice, and your odd behavior, they are beautiful for me, so I needed to hold your arms to make sure that I wasn’t dreaming.
When things were hard, I was afraid that you might disappear in a blink of an eye. I thought you would leave, but then, you hugged me tightly, telling me to share my sadness with you. Thank you for that. Thank you for holding my hands when I was about to fall.

Because it’s your heart, the one that I’ve been struggling to reach for.
After everything I’ve been through, in the night that is full of uncertainty, youre still and will always be the one that I wish for the stars. Living in scars for a very long time, I didn’t think of any possibilities of meeting someone like you. Those sparkling eyes of yours, they’re saying honesty to me. Although this love will only give us pain, even though it sounds impossible, I’ll always want to be the one who wipes your tears away and tell you that everything will be alright, like what you did to me.
You gave me all of you but I… I have nothing to give, to you. Instead of giving something,  let me share everythingsmile, laughter, playful jokes, I’ll surely share them with you. Even though forever is too good to be true, let’s walk, holding hands together as long as we can.

Because it’s you and your love, so I’ll wait for the rest of my life.
It’s hard, we both know. And we aren’t strong enough to endure everything as we wish. No matter how many times I want to give everything up, I know my heart will end up falling for you, all over again and again. The only smile I see, the only voice I hear, and the only breath I feel: they’re all yours. And now, imagining the worst part, what should I do if I can’t see you anymore forforever?
Although happiness seems far from us, and although if it’ll break us into pieces, let’s face everything together like what you said to me. Through fear and pain, even if we’ll lose everything tomorrow, let’s wait for each other at the end of our journey. And I promise to keep you save in my heart. Forever.


Note:
This is my very first post written in English. Yay! I feel really nervous, but I hope all of you will like it. 

May 03, 2014

The Last Promise


Bersama dinginnya hembusan angin yang membawa serpihan dedaunan, kupenuhi janji ini untukmu. Sepanjang perjalanan ini, begitu banyak hari yang telah terlewati, kau dan aku juga telah menjejaki banyak kisah yang membuat kita hampir tak lagi mampu berdiri.
Sudah lama kau dan aku bertualang, mencari jalan masing-masing hanya untuk menegaskan kepastian yang kian memudar. Telah banyak pula waktu yang terbuang, hanya agar kau dan aku menghargai jarak yang membentang.
Kau dan aku diam-diam mengharapkan waktu mau menunggu dengan sabar, sedikit lebih lama lagi. Agar kita mempunyai kesempatan untuk menutup ruang kosong yang menganga di antara inginku dan inginmu, agar kita dapat memupuk dan memetik pelajaran lebih banyak lagi, dan agar kau bisa tinggal lebih lama bersamaku.
Dulu, jika kau dan aku terus berjalan bersama, apakah akhir bahagia yang kini ‘kan kita dapatkan? Kini, apabila kau dan aku terus menggantung harapan, akankah kelak kita masih mampu berjalan di belahan dunia yang sama?
Di balik hamparan mimpi yang pernah kau dan aku miliki, kita tak benar-benar tahu apa yang terjadi pada kisah ini. Kau dan aku masih terlalu samar untuk akhir yang bahagia. Takdir sepertinya tak memberikan pilihan. Ataukah mungkin hanya keangkuhan––yang kau dan aku ciptakan, membuat takdir seolah bersalah?
Pernahkah kau bertanya, apa lagi yang bisa kita percaya? Pernahkah kau ragukan kebahagiaan yang selama ini kau dan aku harapkan? Lalu, sanggupkah kau dan aku menerima kenyataan? Sanggupkah kita meninggalkan serpihan kisah yang tak akan pernah utuh seperti sediakala?

November 16, 2012

Ada Yang Hilang Dan Berubah: Bawa Aku Pergi

Kutemukan catatan ini beberapa hari yang lalu. Sebuah catatan dari seorang gadis berdarah campuran yang segera kalian ketahui namanya. Catatan 19 tahun yang lalu.

Mereka yang berubah, atau aku yang berubah?
           
Semuanya terasa salah dan berantakan akhir-akhir ini. Senyuman yang semula mengembang, tiba-tiba saja menghilang. Harapan yang dulu kugenggam, tiba-tiba saja menguap ke udara. Dan aku... aku tak mengerti kenapa semua berubah menjadi petaka. Semua yang awalnya baik-baik saja, berubah menjadi hancur berantakan.

Banyak hal yang tidak mereka ketahui. Tentang aku dan pemikiranku yang berseberangan dengan banyak orang. Aku yang mereka kira senang bermain dengan risiko, padahal tidak. Aku yang dilahirkan dengan nama Isabella, namun aku membencinya. Terlalu feminim.

Aku telah membuang waktuku, sejak sepuluh menit yang lalu. Sudah sejak sepuluh menit yang lalu pula aku terus berpikir dengan keras di sini. Duduk di atas lantai dingin yang akan merenggutku secara perlahan. Aku terus berseru. Aku bisa gila! 

Lagipula, sebenarnya, aku bukannya tidak tahu. Aku hanya sedang menimbang-nimbang. Apa harus begini? Apa harus begitu? Lalu yang seperti apa? Lalu jalan yang mana? Dan parahnya, semakin aku meyakinkan diri, semakin aku merasa takut. Semakin aku berusaha untuk percaya, semakin aku merasa dihantui. Semakin kuterima, semakin hancur dan sia-sia yang kurasa.

Aku percaya bahwa setiap manusia pasti mempunyai  masalah. Lebih dari itu, aku yakin bahwa Tuhan pasti mempunyai rencana di baliknya. Dan saat ini, aku sedang menunggu tangan Tuhan dan kesediaan-Nya untuk membantuku keluar, lepas dari masalah ini. Segera, dengan akhir yang bahagia.

Aku merasa hilang dan tersesat. Ragaku memang di sini, namun tidak dengan jiwaku. Lalu kalau begitu, untuk apa aku hidup? Untuk apa hidupku? Aku mencari, terus mencari. Namun, aku tidak tahu apa yang sedang kucari. Semakin aku mencari, semakin aku merasa hilang. Semakin aku berusaha menemukan jalan keluar, semakin jauh aku tersesat. 

Tidak ada lagi yang mau mendengar jeritanku yang perlahan tenggelam di antara gurauan orang-orang di luar sana.  Semua menghilang, meninggalkanku serta kebenaran yang kugenggam. Kebenaran selalu temukan jalan? Omong kosong. Jika benar, mengapa aku terjebak di sini sekarang? Beralaskan lantai, dikelilingi dinding yang dingin dan menghakimi.

Tuhan, apa kau mendegarku? Mohon keluarkan aku dari sini. Aku sudah tidak bisa. Aku bisa gila.